Fender Jazzmaster Review: Gitar Alternatif yang Kaya Karakter

Jika Telecaster adalah supir taksi tua yang selalu tahu jalan, dan Stratocaster adalah pembalap muda yang pamer horsepower, maka Jazzmaster adalah seniman nyentrik yang membawa cat air di tas gitarnya.
Pertama kali dirilis pada akhir 1950-an, Jazzmaster tidak pernah benar-benar menemukan tempatnya di dunia jazz seperti yang Fender bayangkan. Tapi kemudian, datanglah para pemberontak — pemain surf rock, shoegaze, indie alternatif — dan Jazzmaster akhirnya pulang ke rumahnya yang sebenarnya: dunia musik yang tak terdefinisi.
Suara Jazzmaster itu seperti percakapan malam yang terlalu panjang: hangat, bergema, kadang bingung, tapi jujur. Pickup-nya — lebih lebar dari Strat, lebih sopan dari Tele — menghasilkan tone yang jangly tapi lembut, seolah-olah gitar ini paham kamu sedang ingin menciptakan sesuatu yang belum ada di radio.
Dan kontrolnya? Cukup membingungkan untuk membuat pemula menyerah — ada rhythm circuit, lead circuit, roller knob, dan tone toggle yang kadang terasa seperti kamu sedang mengendarai pesawat kecil. Tapi bagi mereka yang sabar, yang suka eksperimen, Jazzmaster adalah kanvas suara yang bisa kamu lukis sesukamu.
Floating tremolo-nya bukan untuk dive bomb a la Van Halen, tapi lebih seperti gelombang laut yang membelai pantai — lembut, halus, melayang.
Jazzmaster bukan untuk semua orang. Tapi untuk yang merasa tidak cocok dengan yang “biasa”, gitar ini terasa seperti menemukan rumah.